Lunch at “Burger & Grill” Tebet

Hari ini, bersama kedua rekan saya, kami mencari menu makan siang dan yang menjadi pilihan adalah di “Burger & Grill”. Letaknya dekat Ayam Bakar Mas Mono, Tebet Timur. Lokasi ini termasuk lokasi yang sering jadi tempat nongkrong, terutama saat sore hari dan weekend.

Sesuai namanya, maka menu yang banyak tersedia adalah jenis Burger dan semua yang serba grill, alias dibakar.
Saya sudah pernah ke sini sebelumnya, dan mencoba Soto Bakar Istimewa. Kali ini saya mencoba ini lagi, karena memang khas.

Dagingnya dibakar dahulu dan kuahnya dipisahkan. Sebenarnya tidak beda jauh dengan soto-soto daging lainnya, hanya ya itu… dagingnya dibakar dahulu.
Selain menyediakan soto bakar, di sini juga ada Ayam Bakar, Iga Bakar, Nasi Bakar, Bubur Bakar dan semua yang serba bakar-bakaran dech.
Harga Soto Bakar Rp 25 rb/ porsi komplit

Hm…. kemarin makan yang berkuah santan, malamnya kepala sempat cenut2. Hari ini kembali makan yang bersantan, walaupun tanpa jeroan … :-(
Harus lebih selektif lagi nich milih makanannya :-)

Wisata Kuliner: Soto Serpong

Soto merupakan jenis makanan yang hampir ada di tiap daerah, dan tiap daerah menyajikannya dalam rupa-rupa jenis. Di Jakarta saja setidaknya ada yang namanya: Soto Betawi, Soto Ayam Jakarta, Soto Mie. Belum di daerah-daerah lain.

Nah di BSD, ada salah satu kuliner yang menyajikan serba soto, yaitu Soto Serpong. Sebenarnya tidak semua soto ada di sini, tetapi setidaknya ada: Soto Ayam, Soto Betawi, Soto Empal, Soto Bandung, Soto Mie, Sop Iga, Sop Buntut. Dan ada lagi yang khas di sini, yaitu Soto Serpong. Soto Serpong ini sebenarnya soto biasa, hanya isinya vegetarian, alias sayur-sayuran.

Semalam, kedua orang tua saya datang mengunjungi. Setelah saya tiba di rumah dan mampir sebentar ke Eka Hospital, saya mengajak mereka ke Soto Serpong ini bersama my D. Sayang saya tidak sempat mengambil photo :-( , ya karena udah lapar kali ya.
Saya dan papa saya memilih Soto Betawi, my D Soto Mie serta mama saya Rujak Juhi.
Soto Betawi Rp 13 rb/ porsi
Soto Mie Rp 10 rb/ porsi
Rujak Juhi Rp 10 rb/ porsi
Nasi Putih Rp 3 rb/ piring.

Saya suka makan di sini, karena rasanya tidak terlalu keras, dan keliatannya msg-nya tidak begitu kerasa. Tetapi tetap saja, karena saya memilih soto betawi campur, yang notabene pakai kuah santan, dan isinya adalah daging serta jeroan (paru, babat dan urat), membuat saya tidak boleh sering-sering ke sini. Atau at least pilih yang lebih ramah kolesterol, seperti misalnya Soto Ayam :-)

e-Toll Card: simple? Not really!

Tadinya saya berpikir blog ini akan saya isi dengan posting terkait makanan, tetapi hari ini saya ada ide untuk menulis hal di luar makanan. Hm… daripada bikin blog baru, mendingan tetap menggunakan blog ini.
Topik yang ingin saya angkat kali ini adalah menganai e-Toll Card.

Ceritanya dilatarbelakangi dengan kelelahan saya menghadapi macet, dan sering saya melihat bahwa yang menjadi bottle neck di pintu pembayaran toll. Butuh sekian detik untuk menuntaskan pembayaran toll. Padahal ini dapat diminimalkan dengan mereduksi penggunaan cash, yaitu dengan menggunakan kartu. Bank Mandiri telah mengeluarkan e-Toll Card sejak awal tahun ini. Baru mulai minggu ini saya kepikir untuk menggunakannya, karena saya sering naik mobil minggu ini.

Tadinya saya berpikir dengan adanya e-Toll Card ini akan lebih simple, ternyata gak juga. Menurut saya ada beberapa kelemahan dan justru menambah kerepotan dari e-Toll Card ini, yaitu:

1. E-Toll Card ini hanya mencakup beberapa ruas toll saja, yaitu Toll Dalam Kota dan Cikupa-Merak. Sementara ruas lain: JORR? Tomang – Serpong?? Tadinya saya berpikir mungkin masih butuh waktu untuk berlaku di ruas lain. Tetapi setelah sekian bulan, kok nggak nambah-nambah?

2. Cashless, tetapi kok masih ribet ya? Ternyata cara kerjanya adalah: kartu kita kasih ke penjaga toll, kemudian penjaga toll menggesek di EDC-nya, kemudian struk sekalian kartunya dikembalikan ke pengguna toll. Hmm… kok hampir sama kalau pakai cash ya? Hanya repot nya memang kalau pakai cash, jika ada kembalian. Tetapi kan kembalian biasanya oleh penjaga toll sudah disiapkan.
Harusnya dibikin gerbang otomatis. Jadi tinggal gesek pakai kartu, maka mobil bisa lewat. Gerbang ini sudah ada, tetapi hanya terbatas.

3. Top Up yang merepotkan. Hari ini, nilai di kartu e-Toll saya habis, dan saya baca cara pengisiannya ternyata merepotkan. Pertama kita beli vouchernya dulu, bisa lewat ATM, Internet Banking, dll. Setelah beli voucher, ternyata musti ke kantor cabang atau tenant yang ada EDC, untuk memindahkan nilai di voucher itu ke kartunya. Berarti 2 kali kerja!!! Kenapa pengisiannya gak langsung di ATM, seperti yang dapat dilakukan terhadap Flaz Card-nya BCA? Hari ini saya beli valuenya Rp 50 rb, dan karena kantor cabangnya masih tutup terpaksa siangnya datang lagi. Kemudian di customer service-nya pun masih harus nunggu :-(

4. Rp 10 rb saya hilang. Ternyata di e-Toll Card itu harus ada minimal Rp 10 rb. Dan Rp 10 rb ini mati, alias gak bisa dipakai-pakai. Jadi begini, tadi ketika ingin bayar, sisa di kartu ada Rp 11 rb. Harga toll Rp 6.5 rb. Harusnya cukup dong… tetapi ternyata gak bisa dipakai. Karena kalau pengin transaksi Rp 6.5 rb, maka nilai di kartu minimal harus Rp 16.5 rb… Itu kan berarti saya musti bayar kartunya Rp 10 rb!!!

My Dinner

For my dinner today, there were many kind of meals served on our table:

Ada 4 jenis masakan yang tersedia:
- Kwe Tiau goreng
- Sup bakso
- B2 & Ayam kecap
- Tahu & Tempe goreng

Sebenarnya kwetiau dan sup bakso bukan istriku yang masak, tetapi my mertua. Hari ini dia datang menengok, karena anaknya sedang bed rest.
Sementara menu ke-3, B2 & ayam kecap adalah sisa hari sebelumnya :-) . Tempe dan tahu goreng, nah ja… mudah kan bikinnya :-)
But overall, I am happy that all were served by my beloved wife :-)

My Wife’s Cooking: Brown Chicken with Pommes & Corn Tofu Soup

Istriku memang saat ini sedang sakit dan berdasarkan petunjuk dari dokter, dia musti bed rest. Tetapi bukan bed rest total, sehingga setidaknya dia masih tetap dapat menyalurkan hobby memasaknya. Sebenarnya tadi ketika menelepon rumah, sudah saya rencanakan untuk makan di luar. Tetapi karena dia bilang mau masak dan memasaknya pun tidak sulit, maka ketika pulang sampai rumah tersedialah 2 menu di meja.
Menu pertama saya beri nama Brown Chicken with Pommes. Pommes sebenarnya singkatan dari Pommes Frits dalam bahasa Jerman yang artinya adalah French Fries atau kentang goreng. Ayam dimasak dengan kecap sehingga berwarna rada coklat dan digoreng mentega. Sebagai pendamping disediakan kentang goreng. Sebenarnya kentang goreng ini untuk kudapan istri saya. Di atasnya ditaburi bawang goreng.

Menu kedua adalah sup jagung campur tahu, yang saya beri nama Corn Tofu Soup.

Sebenarnya sup jagung biasa, kemudian ditambahin tahu jepang yang telah dipotong tipis memanjang, kemudian di dalam kuahnya dicampuri pula sedikit sagu agar agak kenyal.

My Wife’s Cooking: Pork in Soy Bean Sauce

Weekend ini, benar-benar penuh dengan makanan yang berlemak :-( .
Setelah Jumat pagi ditraktir oleh keluarga my D makan Nasi Campur di Raya Serpong, kemudian berturut-turut menu B2 di hari sabtunya, hari ini my D menyajikan B2 sebagai menu makan malam, yang saya namakan Pork in Soy Bean Sauce.
Sebenarnya masakan ini sudah dimasaknya sejak Rabu lalu, hanya direndam dulu di larutan kecap dan dimasak pelan-pelan sehingga kuahnya benar-benar meresap dan dagingnya menjadi lembut:

Sejak kemarin sudah coba cicip beberapa potong. Kalau kemarin dipadukan dengan sayur asin, kali ini my D menyajikannya dengan lebih apik. Ditaruh di tengah piring, kemudian dikelilingi oleh deretan timun serta campuran potongan sayuran (buncis, jagung, wortel serta kacang polong). Kemudian utk rasa pedesnya dibuatlah cabe yang diiris serta diberi cuka sedikit.
Menyantap makanan di atas dengan nasi panas, tentu saja membuat nafsu makanan saya bergelora :-)

Wisata Kuliner: Abuba Steak – Gading Serpong

Makan siang kali ini merupakan acara traktiran ultah my D ke keluarganya yang tertunda. Ultahnya sebenarnya udah 2 minggu lalu, tetapi baru kali ini kesampaian utk makan siang bersama. Kuliner yang dipilih kali ini adalah Abuba Steak, yang letaknya persis di seberang SMS (Summarecon Mall Serpong). Abuba yang di sini merupakan cabang yang ada di Cipete, dan berdasarkan info MTI, katanya ok karena cukup ramai yang di Cipete.
Selepas GoDi di GKY, pergilah my D dan saya ke Chrystal sebelum menuju ke Abuba Steak.
Menu utamanya tentu saja adalah steak, yang terbagi atas 5 bagian: Steak Lokal, Steak NZ, Steak US, Steak Wagyu serta daging lain-lain (chicken, salmond, kakap, dll).
Menu lengkap dapat dilihat di sini:

Saya pesan Steak NZ- Sirloin, sementara my D pesan Steak Lokal – Tenderloin. Keluarganya ada yg pesan Sirloin, Tenderloin dan 1 orang pesan salmon.

Penilaian saya secara umum (This is my own opinion):
Tempat: seperti ruko, kurang mencerminkan menu makanannya yang steak, di mana seharusnya dibuat suasana agak western :-) . Tetapi tempat lumayan bersih, namun sayang ada beberapa lalat yang masih hilir mudik. Jika ada musik akan lebih baik, karena kok agak-agak senyap gitu kesannya.

Menu: Porsinya lumayan besar, dapat dilihat pada kedua piring ini:

Daging Sirloin punya saya lumayan, walaupun ada beberapa bagian yang rada alot. Sementara punya my D, sayangnya rada alot. Seharusnya kita pesan yang setengah matang, agar lebih lunak, tetapi my D sedang dalam tahapan “DILARANG MAKAN YANG AGAK MENTAH!”.
Rasa bumbunya kurang begitu menyerap. Sementara paduan sayurannya ok, dan pilihan saucenya lengkap.

Harga: hmmm… relatif kali ya. Tetapi utk porsi segitu ok, tetapi dengan rasa dan tempat seperti ini, menurut saya termasuk ke dalam top-up level price. Dan kalau dilihat dari harga minumannya pun dapat mencerminkan harganya, kan?

Wisata Kuliner: Warung “Soto Madura”

Hari ini sebenarnya tidak ada jadwal untuk makan di luar, tetapi karena my D rada malas masak dan agak capek, maka setelah menjemput saya dari stasiun, berkelanalah kami mencari kuliner baru. Yang kami incar adalah masakan yang berkuah, karena my D rada enek perutnya, dan butuh yang hangat-hangat. Dan kebetulan tadi siang saya makan soto kudus (Soto Kudus Blok M, di daerah Tebet –> sayang gak ada fotonya. Nanti kalau makan di sana lagi, akan saya kasih reportnya), maka dia jadi kepengin makan soto.
Setelah menyusuri jalan Raya Serpong, akhirnya mampirlah kita ke Warung “Soto Madura”, yang letaknya tidak begitu jauh dari SPBU Shell (dari arah Alam Sutera menuju BSD).
Menu utama warung ini tentu saja soto madura, dan kami berdua memesan Soto Campurnya, yang ternyata berbentuk seperti ini:

Yang dimaksud dengan soto campur adalah campuran antara: daging, hati, usus… Manu, ususnya gede-gede lagi :-(
Harusnya pesan soto daging aja :-)
Harga per porsi Rp 15 rb.
Menurut saya rasanya agak khas, di mana campuran santannya tidak kental, dan dagingnya lumayan lembut. Namun sayang, seperti umumnya masakan luaran rumah, micinnya kerasa sekali. Selesai makan, lidah terasa haus.

My Wife’s Cooking: Nasi Goreng Rebon

Saat tiba di rumah, hujan mulai turun yang membuat udara rada sejuk…
Dan sesaat tiba di rumah, dikasih tahu bahwa menu hari ini: Nasi Goreng.
Sebenarnya, nasi goreng tergolong makanan yang simple dan juga banyak variasinya. Kali ini my D membuat Nasi Goreng Rebon.
Rebon adalah udang kering yang berasa asin.

Isiannya tidaklah begitu istimewa. Selain rebon, ada juga mix vegetables. Dan sebagai penambah sayur, disuguhi pula kangkung yg telah di-cah. Di atas nasi goreng ditaburi bawang goreng.
Isian tidak istimewa, tetapi rasanya yang istimewa :-)
Kemudian, nasi disajikan di atas piring lebar, yang baru saja dia beli di Giant Melati Mas. Ada promosi tuch dari Kedaung. Piring itu harganya Rp 12 rb/ piece.

Wisata Kuliner: Bakso Lapangan Tembak Senayan – Rest Area

Setelah melihat pameran di JCC dan dalam perjalanan pulang ke Serpong, mampirlah kami di Rest Area km … (hmm lupa KM berapa) untuk bersantap siang… Agak telat makan siang kali ini, karena sudah jam 2 siang :-)

Bingung mau pilih apa, dan biasanya kami ke Solaria. Cuma ya… bosan :-)
Tepat di belakang Solaria ada Restaurant Bakso Lapangan Tembak Senayan, dan mampirlah kami ke situ. Padahal tadi nonton pamerannya di Senayan :-)
Menu yang tersedia cukup variatif, dan tentu saja sesuai namanya, yang menjadi andalan adalah Bakso. My D memesan baksonya:

Menurut my D, kuahnya lebih enak Bakso Jawir. Tetapi baksonya sendiri sama-sama enak kok.

Sementara saya sendiri memesan Nasi Goreng Kanton (:-????). Tidak begitu tahu awalnya kenapa dinamai Kanton. Mungkin niru-niru Kanton sana. Tetapi ketika saya santap, ternyata enak kok. Nasi gorengnya tidak coklat, bahkan cenderung putih. Dan yang paling saya suka adalah: tidak begitu berminyak, bahkan cenderung kering serta rada-rada hangus.

Sayang, menunya kekecilan buat saya :-)

Sebagai dessert, kami memilih Es Lapangan Tembak (yang tak lain sebenarnya adalah es campur):

Harga secara keseluruhan tidak beda jauh dengan Solaria. Bakso berharga Rp 15 rb; Nasgor Rp 18 rb serta es campur Rp 12 rb.